Nama : Bagas Suryo Prihantoro
Rasika Dhuita Haya Minhaj
NO : 06 dan 22
Kelas : XI IIS 1
PERAN IR SOEKARNO YANG BERSEJARAH
|
1945, Agustus
Soekarno
dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada hari Jumat, 17
Agustus, pukul 10 pagi di Pegangsaan Timur (sekarang Jalan Proklamasi),
Jakarta.
Kabinet pertama RI
dibentuk hanya dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Ahmad Soebardjo
menjadi Menteri Luar Negeri pertama RI. Tanggal 19 Agustus menjadi hari
berdirinya Kementerian Luar Negeri RI.
1945, September
Lapangan
Gambir (kini Lapangan Monas) menjadi ajang ribuan rakyat Indonesia
mendengarkan pidato Presiden Soekarno menyambut Proklamasi Kemerdekaan RI.
1946, April
Indonesia
mengirimkan misi diplomatik pertamanya ke Belanda untuk berunding dengan
pihak Sekutu dan Belanda.
1946, Agustus
Diplomasi
bantuan beras Indonesia untuk rakyat India yang sedang dilanda bencana
kelaparan. Pemerintah India membalas dengan mengirimkan obat-obatan, pakaian,
dan mesin yang dibutuhkan Indonesia.
1947
"Indonesia
Office" atau Kantor Urusan Indonesia didirikan di Singapura, Bangkok,
dan New Delhi untuk menjadi perwakilan resmi Pemerintah RI, sekaligus
menembus blokade ekonomi Belanda terhadap Indonesia.
Radio "Voice
of Free Indonesia" disiarkan untuk pertama kalinya dari Yogyakarta.
1947, Maret
Indonesia
dan Belanda menandatangani Perjanjian Linggarjati, dimana pihak Belanda
mengakui kedaulatan RI hanya sebatas Jawa, Sumatra, dan Madura.
Pemerintah Mesir
yang diwakili oleh Abdul Mounem menyampaikan pengakuan resminya terhadap
kemerdekaan Indonesia.
1948, Desember
Belanda
menggelar agresi militer untuk kedua kalinya terhadap Indonesia. Presiden
Soekarno, Wapres Moh. Hatta dan Menteri Luar Negeri Agus Salim ditangkap
Belanda di ibukota Yogyakarta dan kemudian diasingkan ke Pulau Bangka,
Sumatra.
Sidang Kabinet
Darurat RI kemudian menunjuk Menteri Kemakmuran Sjafruddin Prawiranegara agar
membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). A.A. Maramis yang
saat itu sedang berada di New Delhi menjadi Menteri Luar Negeri PDRI.
1949, Januari
Dewan
Keamanan PBB mengeluarkan resolusi agar Belanda dan Indonesia segera
menghentikan segala aktifitas militer. Belanda diminta DK PBB untuk segera
melepaskan semua tahanan politik yang ditahan sejak awal Agresi Militer II.
Untuk membantu
Indonesia yang sedang diserang Belanda, India dengan dukungan Birma
menyelenggarakan Konferensi Asia mengenai Indonesia di New Delhi. Konferensi
dipimpin langsung oleh PM India Jawaharlal Nehru. Semua delegasi yang hadir
saat itu, mulai dari negara-negara Asia hingga Australia dan Selandia Baru
dari Pasifik, mengutuk Agresi Militer II Belanda.
Pemerintah Birma
(kini Myanmar) memberikan dukungan bagi perjuangan Indonesia melawan Belanda
dengan mengizinkan pesawat "Indonesian Airways" Dakota RI-001
Seulawah untuk beroperasi di Birma. Pesawat Seulawah adalah hadiah dari
rakyat Aceh kepada Presiden Soekarno.
Selain itu, Birma
juga memberikan bantuan peralatan radio yang memungkinkan Indonesia membangun
jaringan komunikasi radio antara pusat pemerintahan RI di Jawa - PDRI di
Sumatera - Perwakilan RI di Rangoon - Perutusan RI untuk PBB di New York.
|
1947, Oktober
Kedatangan
Komisi Tiga Negara (Committee of Good Offices) ke Indonesia, mengemban mandat
Dewan Keamanan PBB untuk mengatasi sengketa Indonesia - Belanda. Para anggota
Komisi adalah Hakim Richard C. Kirby (Australia), mantan Perdana Menteri Paul
van Zeeland (Belgia), dan Rektor University of North Carolina Dr. Frank B.
Graham (AS).
1948
Mufti
Agung Haji Amin El Husni berkunjung ke Indonesia untuk menyampaikan dukungan
dan simpati rakyat Palestina atas perjuangan kemerdekaan Indonesia.
1948, Januari
Perjanjian
gencatan senjata Indonesia-Belanda ditandatangani di atas kapal USS Renville.
Mewakili pihak Indonesia adalah Perdana Menteri Amir Sjarifuddin. Perjanjian
Renville merupakan hasil kerja Komisi Tiga Negara (KTN).
1948, September
Wakil
Presiden merangkap Perdana Menteri RI Mohammad Hatta menyampaikan prinsip-prinsip
kebijakan luar negeri RI yang bebas dan aktif di hadapan Sidang Badan Pekerja
Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).
1948
Untuk
menembus blokade ekonomi Belanda, Menteri Kemakmuran RI Dr. A.K. Gani
berangkat dalam sebuah misi diplomatik ke Kuba untuk mengembangkan hubungan
perdagangan dengan negara-negara Amerika Latin. Pada tahun yang sama,
Indonesia menandatangani kontrak dagang dengan pengusaha AS dan membina
hubungan dengan Bank Dunia.
1949, Juli
Konferensi
Inter-Indonesia diselenggarakan diantara "negara-negara federal" di
Hindia Belanda, seperti: Jawa Tengah, Bangka, Belitung, Riau, Kalimantan
Barat, Dayak Besar. Dalam Konferensi tersebut, negara-negara tersebut
mendukung penyerahan tanpa syarat kedaulatan mereka kepada Republik Indonesia.
1949, Desember
Persetujuan
Meja Bundar ditandatangani di Den Haag, mengakhiri konflik diantara Indonesia
dan Belanda.
Pada hari yang sama
(27 Desember 1949), Wakil Kerajaan Belanda menyerahkan kekuasaan formal
kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) di Jakarta, yang diwakili
oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku Penjabat Perdana Menteri RIS.
Presiden RIS
Soekarno kemudian membentuk kabinet pertamanya. Perdana Menteri merangkap
Menteri Luar Negeri RIS adalah Mohammad Hatta.
Amerika Serikat
(AS) menjadi negara pertama yang membuka perwakilan diplomatik di Jakarta
setelah penyerahan kedaulatan Belanda kepada RIS, hanya tiga hari setelah
Konperensi Meja Bundar di Den Haag. Merle Cochran menjadi Duta Besar pertama
AS untuk Indonesia. Langkah AS itu kemudian segera disusul oleh Inggris,
Belanda, dan China.
|
Masa Awal Kiprah Diplomasi Indonesia
|
1950
Dalam
kunjungan ke Pakistan, Presiden Soekarno bertemu dan menyampaikan penghargaan
kepada para prajurit Pakistan yang berjuang di pihak Indonesia di masa
revolusi melawan Belanda.
1950, Agustus
Indonesia
kembali dipulihkan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1950, September
Indonesia
secara resmi diterima menjadi anggota ke-60 Perserikatan Bangsa - Bangsa
(PBB).
1950, Desember
Perundingan
antara Indonesia dan Belanda mengenai masalah Irian Barat. Delegasi RI
dipimpin oleh Mohammad Roem. Dalam perundingan tersebut, Belanda menolak
menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia.
1955
PM
Republik Rakyat China Chou En-Lai dan Menlu RI Soenario menandatangani
Perjanjian Dua Kewarganegaraan di Jakarta. PM Chou En-Lai berada di Indonesia
dalam rangka menghadiri Konferensi Asia-Afrika.
1955, April
Konferensi
Asia-Afrika (KAA) diselenggarakan di Bandung, tanggal 18 - 24 April. Sebanyak
29 negara dari kedua benua menghadiri Konferensi tersebut, termasuk 5 negara
penggagas KAA Burma, India, Indonesia, Pakistan, dan Sri Lanka. KAA merupakan
konferensi pertama yang diadakan oleh negara-negara bekas jajahan di Asia dan
Afrika setelah Perang Dunia II.
KAA 1955 menandai
kebangkitan bangsa-bangsa terjajah, dengan disepakatinya Dasa Sila Bandung
yang menegaskan hubungan antarbangsa berdasarkan asas kemerdekaan dan
keadilan.
Dalam pidato tersebut, Presiden Soekarno menyerukan "Kekuatan
Dunia Baru" (New Emerging Forces, NEFOS) untuk bangkit menuju tatanan
dunia yang lebih adil dan seimbang, melampaui dominasi negara-negara besar di
dunia yang secara ideologis terbagi ke dalam Blok Barat dan Blok Timur.
Untuk mewujudkan
hal tersebut, Indonesia bertemu dengan para kepala pemerintahan Ghana, India,
Mesir, dan Yugoslavia guna mempersiapkan penyelenggaraan Konferensi Tingkat
Tinggi Gerakan Non-Blok I di Beograd, Yugoslavia pada tahun 1961.
1961
KTT
Gerakan Non-Blok I diselenggarakan di Beograd, Yugoslavia. Presiden Soekarno
dan Perdana Menteri Nehru dari India diutus oleh forum untuk menyampaikan
hasil-hasil KTT GNB I, masing-masing ke Washington dan ke Moskow.
KTT GNB 1961 dan
Konferensi Asia-Afrika 1955 mengukuhkan peranan historis RI dalam membangun
suatu tatanan dunia baru untuk negara-negara berkembang berdasarkan prinsip
kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan.
1961, Desember
Presiden
Soekarno mengeluarkan Tri Komando Rakyat (Trikora) yang menyerukan kepada
rakyat Indonesia untuk membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda.
Komando Mandala dibentuk di Makassar untuk mengatur perjuangan bersenjata
membebaskan Irian Barat.
1962, Agustus
Perjanjian
New York ditandatangani oleh pihak Indonesia dan Belanda. Menurut isi
perjanjian, Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Pemerintahan Sementara PBB
(UN Temporary Executive Administration, UNTEA).
|
1956
Indonesia
untuk pertama kalinya mengirimkan pasukan Kontingen Garuda dalam misi penjaga
perdamaian PBB di Gurun Sinai, Timur Tengah.
1956, Mei
Presiden
Soekarno menandatangani Undang-Undang No. 13 Tahun 1956 mengenai pembatalan
sepihak Uni Indonesia - Belanda, karena sikap tidak bersahabat Belanda dan
penolakannya untuk menyerahkan kembali Irian Barat kepada Indonesia.
Pada tahun yang
sama, Presiden Soekarno berkeliling ke negara-negara AS, China, Uni Soviet,
dan Yugoslavia untuk mendapatkan dukungan bagi perjuangan merebut kembali
Irian Barat.
1958,
Januari
Indonesia
dan Jepang menandatangani Perjanjian Perdamaian di Jakarta. Penandatanganan
dari pihak Indonesia adalah Dr. Subandrio.
1959
Laili
Roesad dilantik menjadi Duta Besar RI untuk Belgia dan Luksemburg. Beliau
adalah duta besar perempuan pertama Indonesia.
1960, Agustus
Pada
tanggal 17 Agustus, Indonesia menyatakan memutuskan hubungan diplomatik
dengan Belanda dan melakukan persiapan militer untuk membebaskan Irian Barat.
Untuk menindaklanjuti hal tersebut, berbagai misi untuk mendapatkan bantuan
persenjataan dikirimkan antara lain ke China, Uni Soviet, dan Yugoslavia.
1960, September
Presiden
Soekarno di hadapan Sidang Majelis Umum PBB ke-15 menyampaikan pidatonya yang
berjudul "Membangun Dunia Baru" (To Build the World Anew).
1963, Mei
UNTEA
menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia. Untuk memperingati perjuangan pembebasan
Irian Barat, sebuah Tugu Peringatan didirikan di Lapangan Banteng pada
tanggal 18 Agustus.
1963, September
Indonesia
memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia, menyusul pembentukan Federasi
Malaysia yang mencakup daerah-daerah bekas jajahan Inggris di Kalimantan
Utara.
Presiden Soekarno
menyerukan "konfrontasi fisik" dengan Malaysia, yang menyebabkan
banyak terjadinya insiden bersenjata antara tenaga sukarelawan Indonesia
dengan tentara Malaysia yang dibantu Inggris, Australia, dan Selandia Baru di
sepanjang daerah perbatasan di utara Kalimantan.o.id
|
HAL-HAL YANG DAPAT DITELADANI DARI
IR. SOEKARNO
Selalu mengutamakan musyawarah untuk
mufakat.
Pada saat proses perumusan Pancasila
sebagai dasar negara, Soekarno dan tokoh kemerdekaan Indonesia lainnya
mengadakan musyawarah untuk mencapai mufakat demi keutuhan bangsa dan negara
Indonesia yang baru berdiri.
Meletakkan kepentingan bangsa dan
negara di atas kepentingan pribadi.
Meskipun masing-masing tokoh memiliki
pendapat yang berbeda-beda namun akhirnya Soekarno dan tokoh bangsa lainnya
dapat menghasilkan keputusan bersama yang diterima & dilaksanakan dengan
ikhlas dan penuh tanggung jawab.
Memiliki semangat kekeluargaan dan
kebersamaan.
Soekarno dan tokoh bangsa lainnya
memiliki semangat kekeluargaan dan kebersamaan yang merupakan kekuatan
batin dalam merebut kemerdekaan dan menegakkan kedaulatan rakyat.
Berani dan rela berkorban untuk tanah
air, bangsa dan negara.
Soekarno terkenal sebagai orator yang
ulung. Pidato-pidato mampu membangkitkan semangat rakyat untuk berjuang merebut
kemerdekaan. Dengan tuduhan menghasut rakyat untuk memberontak, pada akhir
Desember 1929 Soekarno ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara.
Pantang mundur dan tidak kenal
menyerah
Perumusan dasar negara Indonesia
merupakan hasil kerja keras yang melibatkan banyak tokoh diantaranya Soekarno.
Beliau berjuang keras tanpa kenal menyerah dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih
dan penuh semangat untuk merumuskan dasar Negara.
KESIMPULAN YANG DAPAT KITA JADIKAN
PELAJARAN DARI IR. SOEKARNO
·
Tidak melakukan Korupsi atau segala sesuatu yang
dapat menghancurkan Kita.
·
Apabila Kita ingin memimpin orang lain, pimpin
dahulu diri Kita sehingga orang lain yang Kita pimpin-pun akan segan, terbukti
dengan Kepemimpinan Soekarno yang tidak mengambil uang rakyat berakibat pada
orang-orang yang dipimpinnya-pun tidak sampai hati untuk melakukan hal itu.
·
Menjadi Pemimpin yang terbuka, tidak hanya untuk
golongannya tapi untuk semua kalangan yang dipimpin, terbukti dengan Keinginan
Soekarno yang ingin Istana Negara bukan hanya menjadi tempat bagi para
mandataris rakyat, tapi juga terbuka untuk setiap orang yang ingin masuk dan
belajar di sana, tidak seperti kondisi sekarang yang penjagaan sangat ketat
sehingga cenderung orang-orang istana saja yang bisa masuk ke sana.
·
Menjadi pemimpin yang jika berbicara tidak
hanya mampu dimengerti oleh orang-orang yang berpendidikan, tapi bisa
menyesuaikan dengan siapa yang diajak bicara.
·
Pemimpin harus memerdulikan ‘orang kecil’.
Hakikat pemimpin adalah orang yang dipilih rakyat (mandataris rakyat), sehingga
harus memerdulikan rakyat yang dipimpinnya.
·
Jangan pernah menyerah dalam memerjuangkan
kebenaran dan untuk kepentingan masyarakat banyak.
·
Jangan terlalu menikmati (terlena) dengan
jabatan yang Kita pegang sekarang seolah tidak ingin turun, walaupun Kita
telah menorehkan prestasi yang membanggakan, Kita harus sadar bahwa jabatan itu
harus berganti, jika tidak, maka akan terjadi hal-hal yang negatif.
·
Pemimpin harus gigih dalam memerjuangkan
kebenaran walaupun risikonya sangat besar.
·
Pemimpin yang tegas dan berani, adalah pemimpin
yang dapat selalu mempertahankan integritasnya, sekalipun ‘penjara’
rintangannya.
·
Apabila seorang pemimpin ingin dan bermaksud
memperjuangkan kepentingan ‘rakyat’ yang dipimpinnya, maka Pemimpin tersebut
harus sebisa mungkin berjumpa dengan ‘rakyat’nya, karena dengan itu, maka akan
tampak bukan hanya sekadar janji-janji yang terlontar, namun ada usaha untuk
menjadikan itu nyata.
KATA-KATA MUTIARA IR. SOEKARNO
TERBAIK
1. "Tuhan menciptakan bangsa untuk maju melawan
kebohongan elit atas, hanya bangsanya sendiri yang mampu merubah nasib
negerinya sendiri."
2. "Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar
semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa
Indonesia sendiri yang mengolahnya."
3. "Barangsiapa ingin mutiara, harus berani
terjun di lautan yang dalam."
4. “Firman Tuhan inilah
gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru
ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak merobah
nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya” [Bung Karno, Pidato HUT Proklamasi,
1964]
5. "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa
pahlawannya." [Ir. Soekarno, Pidato Hari Pahlawan 10 November 1961]
6. "Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup
dimasa pancaroba. Jadi tetaplah bersemangat elang rajawali."
7. "Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi
langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."
8. "Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor
burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke
puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka
tak dapatlah terbang burung itu sama sekali."
9. "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah,
perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."
10. "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari
akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia"
11. "Merdeka hanyalah sebuah jembatan, Walaupun jembatan emas..,
di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa..,
satu ke dunia sama ratap sama tangis!"
12. "Orang tidak bisa mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi
kepada sesama manusia.. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin."
13. "Apakah kelemahan kita adalah kurang percaya
diri sebaga bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri dan
kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah rakyat
gotong royong."
14. "Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa
kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang
langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah Kekuasaan Tuhan
Yang Maha Esa."
15. "Bangunlah suatu dunia dimana semuanya bangsa
hidup dalam damai dan persaudaraan."
16. "Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe.
Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika
bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik
makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tapi budak." [Bung
Karno, Pidato HUT Proklamasi]
17. "Aku lebih suka lukisan samudra yang
gelombangnya menggebu-gebu daripada lukisan sawah yang adem ayem tentram."
18. "Janganlah mengira kita semua sudah cukup
berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk
pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak
keringat." [Ir. Soekarno, Pidato HUT Proklamasi]
19. "Apabila dalam di dalam diri seseorang masih
ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang
tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun."
20. "Janganlah melihat ke masa depan dengan mata
buta. Masa yang lampau sangat berguna sebagai kaca benggala daripada masa yang
akan datang."
21. “Tidak seorang pun yang
menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau
aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. [Ir. Soekarno, Pidato HUT
Proklamasi 1956]
22. "Apakah kita mau Indonesia merdeka, yang kaum
Kapitalnya merajalela ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua cukup
makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu
Pertiwi yang cukup memberi sandang dan pangan?" [Ir. Soekarno Pidato
lahirnya Pancasila 1 Juni 1945]
23. "Gemah ripah loh jinawi,
tata tentram kerta raharja, para kawula iyeg rumagang ing gawe, tebih saking
laku cengengilan adoh saking juti. Wong kang lumaku dagang, rinten dalu tan
wonten pedote, labet saking tan wonten sansayangi margi. Subur kang sarwa
tinandur, murah kang sarwa tinuku. Bebek ayam raja kaya enjang medal ing
panggenan, sore bali ing kandange dewe-dewe. Ucapan-dalang dari
bapaknya-embahnya-buyutnya-canggahnya, warengnya-udeg-udegnya gantung siwurnya.
Bekerja bersatu padu, jauh daripada hasut, dengki, orang berdagang siang malam
tiada hentinya, tidak ada halangan di jalan. Inipun menggambarkan cita-cita
sosialisme." [Bung Karno, Pidato Hari
Ibu 22 Desember 1960]
24. "Walaupun jembatan emas di seberang jembatan itu jalan
pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa.. satu ke dunia sama ratap sama
tangis.."