Minggu, 17 April 2016

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "burhanuddin mohammad diah"

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "burhanuddin mohammad diah"


ATRI CAHYANINGTYAS                  (04)
SINDI NUGRAHENI                            (30)


Burhanuddin Mohammad Diah

        I.            PROFIL SINGKAT
Nama               : Burhanuddin Mohammad Diah
Lahir                : Kutaraja  (sekarang Banda Aceh), 7 April 1917
Meninggal        : Jakarta, 10 Juni 1996
Profesi             : Tokoh pers, pejuang kemerdekaan, diplomat, dan pengusaha Indonesia.

     II.            PERAN

1.       Direktur Utama Sinar Deli Medan
2.       Anggota redaksi surat kabar Warta Harian yang terbit di Jakarta (1938-1939)
3.       Penerbit majalah Peraturan Dunia dalam Film (1938)
4.       Penerjemah dan Kepala Pers Indonesia di Konsulat Jenderal Inggris di Jakarta (1939-1942)
5.       Pemimpin surat kabar Asia Raja di Jakarta (1942-1948)
Beliau meliput keadaan Jerman Barat dan Berlin yang baru kalah perang.

6.       Golongan pemuda yang hadir dalam perumusan Teks Proklamasi di Kediaman Maeda
Setelah perumusan teks proklamasi disetujui hadirin kemudian diketik oleh Sayuti Melik akan tetapi konsep teks proklamasi itu dibiarkan begitu saja, oleh karena itu segera diambil dan dicetak oleh BM. Diah untuk disebarkan ke seluruh Indonesia. Pekerjaan tersebut dilakukan para pemuda yang bekerja di kalangan pers di bawah pimpinannya.




7.       Ketua Gerakan Angatan Baru  45’
Bersama dengan Chairul Saleh, Sukarni, Wikana dan lain-lain sering mengadakan pertemuan dan akhirnya 3 Juni 1945 dibentuklah gerakan Angkatan Baru yang bertujuan "Memperjuangkan Indonesia Merdeka sekarang juga! " dan ia diangkat sebagai ketuanya. Akibat gerakannya ini,  beliau dipenjarakan dengan tuduhan melakukan tindakan melawan pemerintah militer Jepang.

8.       Anggota KNIP Malang (1945-1952)
9.       Penerbit surat kabar Merdeka (1945)
10.   Ketua surat Kabar Indonesia Observer (1945)
Tahun 1949 (Juli-November) beliau sering mengadakan wawancara dengan pemimpin-pemimpin dunia mengenai politik diantaranya; Presiden Najib dari Mesir, Perdana Menteri dari Nehru dari India, Perdana Menteri Chou En Lai dari Cina, Perdana Menteri Margereth Thacher dari Inggris dan lain-lain.

11.   Penyiar siaran bahasa Inggris di Radio Hosokyoku
Di saat yang bersamaan, ia juga bekerja di Asia Raja. Namun karena hal itu ketahuan Jepang, ia pun dijebloskan ke dalam penjara selama empat hari. Saat bekerja di Radio Hosokyoku, BM Diah bertemu dengan Herawati, seorang penyiar lulusan jurnalistik dan sosiologi di Amerika Serikat yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Pasangan itu menikah pada 18 Agustus 1942 dan memberikan mereka dua anak perempuan dan satu laki-laki. Pada April 1945, Diah bersama istrinya mendirikan koran berbahasa Inggris Indonesian Observer.

12.   Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, Diah bersama sejumlah rekannya, seperti Joesoef Isak dan Rosihan Anwar juga turut memanggul senjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Percetakan Jepang "Djawa Shimbun" yang menerbitkan Harian Asia Raja berhasil mereka kuasai tanpa perlawanan dari tentara Jepang.
Setelah berhasil menguasai percetakan Jepang, pada 1 Oktober 1945, Diah mendirikan Harian Merdeka sekaligus memimpinnya hingga akhir hayatnya. Dalam kepemimpinannya, ia tetap konsisten menjadikan Harian Merdeka sebagai salah satu surat kabar perjuangan yang khusus berbicara mengenai politik. Sehingga pada awal tahun 1950-an, muncul istilah Personal Journalism, sebuah corak jurnalistik yang berkembang setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda.

13.   Anggota DPRS (1952-1955)
14.   Anggota Dewan Nasional, Dewan Penasehat Presiden Soekarno (1957-1959)
15.   Komisi pemerintahan untuk menyusun Undang-Undang Pers Indonesia (1957)
16.   Duta Besar RI di Chekoslovakia dan Hongaria (1959-1962)
17.   Gubernur Atomic Energy Agency (IAEA) (1960-1962)
mewakili Indonesia di Wina
18.   Duta Besar RI di Kerajaan Muangthai, Bangkok (1962-1964)
19.   Menteri Penerangan pada Kabinet Ampera (1966- 1968)
Era Orde Baru, BM Diah diangkat oleh Presiden Soeharto Menteri Penerangan pada Kabinet Ampera ke 18. Dalam perjalanan berikutnya, ia juga pernah menjadi anggota DPR dan DPA.

20.   Ketua PWI Pusat (1971-1973)
21.   Anggota ketua dewan pembina PWI-Pusat (1974)
22.   Ketua Komisariat Daerah Persatuan Perhotelan dan Restoran Republik Indonesia (PHRI) (1975-1979)
23.   Salah satu pendiri Yayasan 17 Agustus 45 (1975)
Yaitu lembaga yang mempelajari ilmu politik, sosial, kemanusiaan, dan ekonomi.

24.   Ketua Harian Dewan Pers Indonesia (1978-1987)
25.   Anggota panitia penasehat untuk ketua Konferensi Menteri-Menteri Penerangan dari negara-negara Non Blok (1987)
Selain itu, ia juga mengadakan wawancara khusus dengan Presiden Michael Garbachev dari USRR mengenai Glasnots dan Perestroika.

26.   Penulis buku
Karya tulisnya yang sudah dibukukan, yaitu Angkatan Baru 1945 terbitan tahun 1983, Meluruskan Sejarah terbitan 1984, dan Mahkota Bagi Seorang Wartawan terbitan 1988.

27.   Presiden Direktur PT Masa Merdeka
28.   Wakil Pemimpin PT Hotel Prapatan-Jakarta.
29.   Pendirikan Hottel Hyatt Aryaduta.


  III.            KETELADANAN
1.       Tegas dan bertanggung jawab
Terbukti beliau dipercaya untuk menjadi ketua maupun wakil ketua diberbagai organisasi- organisasi pada masa kemerdekaan.

2.       Aktif
Dari muda sampai akhir hayat, beliau selalu mengikuti berbagai pergerakan kemerdekaan, organisasi- organisasi, dan kegiatan lain yang sangat berperan dalam kemerdekaan dan kemajuan Indonesia.

3.       Tekad yang kuat dan kerja keras
Sewaktu BM Diah di sekolah, beliau tidak mampu untuk membayar biaya sekolah. Namun, karena tekad yang kuat dan kerja keras beliau untuk tetap sekolah akhirnya guru beliau membantu agar beliau tetap bias bersekolah.


Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "sayuti melik"

Tugas Sejarah
Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi
Sayuti Melik


Lutfi Raka Satria                     (XI.S.1/18)

Risa Yauma Nur J       (XI.S.1/23)








Profil Sayuti Melik
Nama                                        : Mohammad Ibnu Sayuti
Tempat tanggal lahir       : Sleman, 22 November 1908
Wafat                                        :Jakarta, 27 November 1989(80 tahun)
Agama                                      : Islam
Makam                                      : TMP Kalibata
Pekerjaan                                  : Wartawan Politisi
Orang Tua                                 : Abdul Mu’in dan Sumilah
Pasangan                                   : S.K. Trimurti
Anak                                         : Moesafir Karma Boediman dan Heru Baskoro





Peran Sayuti Melik dalam Kemerdekaan.
Sayuti Melik adalah seorang wartawan dan pejuang nasional. Sebagai pejuang dan sekaligus wartawan, Sayuti Melik terlibat langsung dalam persiapan proklamasi tersebut. Dia termasuk salah satu dari kelompok lima yakni Soekarno, Mohammad Hatta, Sukarni dan Achmad Subarjo. Keterlibatan Sayuti Melik terutama dalam merumuskan point - point penting yang kelak akan menjadi teks proklamasi. Kejadian itu berlangsung dini hari di rumah Laksamana Tadashi Maeda di jalan Imam Bonjol, No. 1, Jakarta Pusat, seorang perwira tinggi jepang berpangkat laksamana madya. Sayuti Melik lahir di Dusun Kalidogo, Kelurahan Purwobinangun, Paken, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ayahnya bernama Dul Maini, seorang kepala kerohanian di sembung kala itu. Dalam perumusan naskah teks proklamasi tersebut menurut beberapa rujukan terjadi perbincangan sengit tentang siapa yang menandatangani naskah proklamasi tersebut. Saat itu redaksi naskahnya sendiri telah mendapat persetujuan bulat, terutama pada langkah penentuan nasib bangsa Indonesia selanjutnya itu. Lalu setelah jeda, Sukarni maju ke depan dan menyatakan bahwa yang mentanda tangani naskah proklamasi tersebut tidak perlu semua anggota, melainkan Soekarno dan Mohammad Hatta saja atas nama bangsa Indonesia. Hadirin menyambut usulan itu dengan tepuk tangan. Tapi sesungguhnya yang mempunyai gagasan untuk mengusulkan hal tersebut tidak lain adalah Sayuti Melik dan diucapkan Sukarni di podium. Kedati Mohammad Hatta yang awalnya mengusulkan agar naskah tersebut ditanda tangani oleh kelompok lima kecewa dengan diterimanya usul dari Sukarni tersebut. Tapi sejarah kemudian mencatat bahwa yang menandatangani naskah teks proklamasi pada akhirnya adalah Soekarno dan Beliau sendiri. Usulnya diterima dan Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti untuk mengetiknya. Ia mengubah kalimat “Wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”.

Hal-Hal yang Dapat Diteladani
  1. Beliau memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, dengan ikut serta dalam perumusan teks proklamasi.
  2. Berpendirian teguh dan bertanggung jawab, dapat diketahui dari sosok belau yang rela tidak tidur demi menyelesaikan ketikan teks proklamasi.
  3. Berani mempertaruhkan nyawanya untuk mewujudkan kemerdekaan.
  4. Sosok yang berani dan pantang menyerah. 

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi “SUKARNI KARTODIWIRYO”

Nama Anggota:
Q Alma Puspita Kencana       (01)
Q Valentino Dandi S               (32)
kelompok 4

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi

“SUKARNI KARTODIWIRYO”

Sukarni memiliki nama lengkap yaitu Soekarni Kartodiwiryo. Beliau lahir di Blitar, Jawa Timur pada tanggal 14 Juli 1916. Soekarni Kartodiwiryo adalah tokoh pejuang kemerdekaan dan Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau wafat pada tanggal 7 Mei 1971 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Sukarni sangat aktif dalam pergerakan politik sejak masih muda. Selain itu, beliau juga berperan dalam perjuangan proklamasi kemerdekaan Indonesia, berikut beberapa perannya dalam memperjuangkan kemerdekaan  :
a)      Sukarni bekerja dalam kantor berita DOMEI
b)      Pemimpin gerakan pemuda di Asrama Pemuda Angkatan Baru, Menteng Raya 31 Jakarta.
c)      Pelopor penculikan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok.
d)     Tokoh yang mengusulkan agar teks proklamasi ditanda tangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.
e)      Pemimpin pertemuan strategi penyebarluasan teks proklamasi.
Ada beberapa keteladanan yang dapat diambil dari tokoh Sukarni Kartodiwiryo, seperti :
©  Berjiwa nasionalis yang tinggi. Hal itu ditunjukkan dengan bergabung dalam organisasi Indonesia Muda dan pelopor pengusulan ditanda tanganinya naskah proklamsi oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.
©  Memiliki sifat pemberani. Keberaniannya ini ditunjukkan dalam keikutsertaannya menjadi ketua umum pengurus besar orgnisasi Indonesia Muda serta menjadi pelopor penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok.

©  Bertanggung jawab dalam kepemimpinannya di organisasi Indonesia Muda. 

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "Mohammad Hatta"

Anggota Kelompok :
1.     Aziz Satria Wicaksono                 (05)              XI IPS 1
2.    Devi Amalia Nurkhasanah              (10)


Peran Mohammad Hatta






Anggota Kelompok :
1.     Aziz Satria Wicaksono                 (05)              XI IPS 1
2.    Devi Amalia Nurkhasanah              (10)

Peran Mohammad Hatta



Siapa yang tak kenal dengan wakil presiden Negara kita ini? Mohamad Hatta atau akrab dipanggil Moh.Hatta merupakan tokoh proklamator yang sangat berperan penting terhadap Negara tercinta kita ini. Bung Hatta adalah nama salah seorang dari beribu pahlawan yang pernah memperjuangkan kemerdekaan dan kemajuan Indonesia. Sosok Bung Hatta telah menjadi begitu dekat dengan hati rakyat Indonesia karena perjuangan dan sifatnya yang begitu merakyat. Besarnya peran beliau dalam perjuangan negeri ini sehingga ia disebut sebagai salah seorang “The Founding Father’s of Indonesia”.Berbagai tulisan dan kisah perjuangan Muhammad Hatta telah ditulis dan dibukukan, mulai dari masa kecil, remaja, dewasa dan perjuangan beliau untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.  Sangat besar jasa beliau yang telah diperjuangkan demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Ide-ide dan pemikirannya yang gemilang banyak berkontribusi pada NKRI,sehingga kita dapat menjadi bangsa yang besar seperti saat ini. Terbukti saat proklamasi kemerdekaan,Drs.Moh Hatta dianggap sebagai pemimpin utama bangsa selain Bung Karno. Berkat beliau,perselisihan pendapat antara golongan tua dan golongan muda dapat tercapai kesepakatan. Beliau berdialog dengan golongan muda tentang bagaimana tentang cara memproklamasikan kemerdekaan Indonesia  Selain itu, Bung Hatta adalah salah seorang perumus naskah Proklamasi. Bersama Bung Karno, Bung Hatta bertindak sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia. Selain menandatangani naskah Proklamasi, beliau mendampingi Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.Bung Hatta juga sangat berjasa atas perubahan beberapa kata dalam Piagam Jakarta. Sebagai pemimpin bangsa beliau menerima aspirasi seluruh rakyat Indonesia. Beliau memikirkan keutuhan seluruh bangsa Indonesia.
Dr. H. Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Pria yang akrab disapa dengan sebutan Bung Hatta ini merupakan pejuang kemerdekaan RI yang kerap disandingkan dengan Soekarno. Tak hanya sebagai pejuang kemerdekaan, Bung Hatta juga dikenal sebagai seorang organisatoris, aktivis partai politik, negarawan, proklamator, pelopor koperasi, dan seorang wakil presiden pertama di Indonesia.Kiprahnya di bidang politik dimulai saat ia terpilih menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond wilayah Padang pada tahun 1916. Pengetahuan politiknya berkembang dengan cepat saat Hatta sering menghadiri berbagai ceramah dan pertemuan-pertemuan politik. Secara berkelanjutan, Hatta melanjutkan kiprahnya terjun di dunia politik. Sampai pada tahun 1921 Hatta menetap di Rotterdam, Belanda dan bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda, Indische Vereeniging. Mulanya, organisasi tersebut hanyalah merupakan organisasi perkumpulan bagi pelajar, namun segera berubah menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan saat tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumu) bergabung dengan Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).Di Perhimpunan Indonesia, Hatta mulai meniti karir di jenjang politiknya sebagai bendahara pada tahun 1922 dan menjadi ketua pada tahun 1925. Saat terpilih menjadi ketua PI, Hatta mengumandangkan pidato inagurasi yang berjudul "Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan".Dalam pidatonya, ia mencoba menganalisa struktur ekonomi dunia yang ada pada saat itu berdasarkan landasan kebijakan non-kooperatif. Hatta berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik rakyat Indonesia.Sebagai ketua PI saat itu, Hatta memimpin delegasi Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Berville, Perancis, pada tahun 1926. Ia mulai memperkenalkan nama Indonesia dan sejak saat itu nama Indonesia dikenal di kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda dan berkenalan dengan aktivis nasionalis India, Jawaharhal Nehru.Aktivitas politik Hatta pada organisasi ini menyebabkan dirinya ditangkap tentara Belanda bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul madjid Djojodiningrat sebelum akhirnya dibebaskan setelah ia berpidato dengan pidato pembelaan berjudul: Indonesia Free. Selanjutnya pada tahun 1932, Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia dengan adanya pelatihan-pelatihan.Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Aksi ini menuai reaksi keras oleh Hatta. Ia mulai menulis mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi Hatta inilah pemerintah kolonial Belanda mulai memusatkan perhatian pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia dan menangkap pimpinan para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua. Pada masa pengasingan di Digul, Hatta aktif menulis di berbagai ssurat kabar. Ia juga rajin membaca buku yang ia bawa dari Jakarta untuk kemudian diajarkan kepada teman-temannya. Selanjutnya, pada tahun 1935 saat pemerintahan kolonial Belanda berganti, Hatta dan Sjahrir dipindahlokasikan ke Bandaneira. Di sanalah, Hatta dan Sjahrir mulai memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, politik, dan lainnya.Setelah delapan tahun diasingkan, Hatta dan Sjahrir dibawa kembali ke Sukabumi pada tahun 1942. Selang satu bulan, pemerintah kolonial Belanda menyerah pada Jepang. Pada saat itulah Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.Pada awal Agustus 1945, nama Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dengan Soekarno sebagai Ketua dan Hatta sebagai Wakil Ketua.Pada tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pagesangan Timur 56 tepatnya pukul 10.00 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keesokan harinya, pada tanggal 18 Agustus 1945 Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Hatta sebagai Wakil Presiden.Setelah kemerdekaan mutlak Republik Indonesia, Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan. Dia juga masih aktif menulis berbagai macam karangan dan membimbing gerakan koperasi sesuai apa yang dicita-citakannya. Tanggal 12 Juli 1951, Hatta mengucapkan pidato di radio mengenai hari jadi Koperasi dan selang hari lima hari kemudian dia diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia.Dengan Latar belakang pendidikan ekonomi, disertai tekad untuk menolong rakyat yang menderita, beliau selalu menganjurkan agar masyarakat menjadi anggota koperasi.Bung Hatta menginginkan agar koperasi menjadi wadah ekonomi yang dapat menolong masyarakat dari kemelaratan dan keterbelakangan. Banyak jasa bung hatta dalam perkembangan koperasi di Indonesia. Hal ini jelas dari gagasan Bung Hatta agar kekuatan-kekuatan ekonomi ada ditangan rakyat. Agar kekuatan ekonomi dikuasai oleh rakyat banyak dan bukan dikuasai oleh perusahaan, koperasi adalah satu-satunya wadah. Untuk tujuan itu, Bung Hatta bersama dengan tokoh lainnya ikut aktif merintis Dewan Koperasi Indonesia (DKI), Gerakan Koperasi Indonesia (GKI), dan Kesatuan Koperasi Seluruh Indonesia (KOKSI).Konsep pemikiran Bung Hatta banyak diterima pada kongres koperasi I di Tasikmalaya dan Kongres Koperasi II. Beliau juga member gagasan pendirian Sekolah Menengah Ekonomi Jurusan Koperasi dan bahkan pendidikan tinggi koperasi. Walaupun Bung Hatta telah meninggalkan kita pada tanggal 14 maret 1980, namun beliau tidak pernah dapat dilupakan sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Peran Moh. Hatta
1.     Mendirikan perhimpunan Indonesia (IP)
2.    Menjadi pemimpin Putera (Pusat Tenaga Rakyat)
3.    Menjadi anggota Panitia Sembilan dalam merumuskan Piagam Jakarta
4.    Bersama Ir. Soekarno menandatangani naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
5.    Menjadi pemimpin delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda tanggal 23 Agustus–2 November 1949
6.    Pada tanggal 27 Desember 1945, menandatangani naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia
7.    Drs. Mohammad Hatta dipercaya mendampingi Ir. Soekarno menjadi wakil presiden pertama Republik Indonesia.






Keteladanan Sosok Moh.Hatta
Setelah mengerti dan memahami jasa-jasa yang telah dilakukan oleh Bung Hatta terhadap Indonesia,kita juga harus dapat memetik dan mencontoh pribadi baiknya. Berikut sedikit kisah hidup yang sedikit banyak dapat kita jadikan inspirasi dan motivasi dalam kehidupan :

1.   Sederhana dan baik hati
“Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu itu. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang untuk meminta pertolongan.Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi. Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Padahal, jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sangatlah mudah bagi beliau untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta. Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain.Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri.”
2.      Jujur dan Rendah hati
Ketika Bung Hatta ingin menunaikan ibadah haji di tanah suci, beliau berangkat dengan menggunakan biaya sendiri. Padahal waktu itu Bung Karno telah menawari untuk berangkat menggunakan pesawat terbang yang biayanya ditanggung negara. Tapi, Bung Hatta menolaknya dan lebih memilih untuk naik haji menggunakana biaya sendiri sebagai rakyat biasa. Hebat bukan?
3.    Mendahulukan kepentingan Negara
Ibu Rahmi, istri Bung Hatta menabung sedikit demi sedikit untuk membeli mesin jahit. Ketika tabungannya sudah cukup, Ibu Rahmi pun berencana untuk membeli mesin jahit impiannya. Tapi, kemudian Ibu Rahmi sedih karena tidak jadi membeli mesin jahit tersebut. Kenapa? Sewaktu Ibu Rahmi akan membeli mesin jahit ternyata ada berita bahwa ada penurunan nilai mata uang dari 100 rupiah menjadi 1 rupiah. Meskipun Bung Hatta tahu hal itu, beliau tidak mau menceritakan kepada Ibu Rahmi karena hal tersebut merupakan suatu rahasia negara.

itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini. Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain.Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.





Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "IR.Soekarno"


Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "IR.Soekarno"

KELOMPOK 1
docx
Nama        : Bagas Suryo Prihantoro
 Rasika Dhuita Haya Minhaj
NO             : 06 dan 22
Kelas         : XI IIS 1
/data/data/com.infraware.PolarisOfficeStdForTablet/files/.polaris_temp/image2.jpeg
PERAN IR SOEKARNO YANG BERSEJARAH
1945, Agustus
Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada hari Jumat, 17 Agustus, pukul 10 pagi di Pegangsaan Timur (sekarang Jalan Proklamasi), Jakarta.

Kabinet pertama RI dibentuk hanya dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Ahmad Soebardjo menjadi Menteri Luar Negeri pertama RI. Tanggal 19 Agustus menjadi hari berdirinya Kementerian Luar Negeri RI.

1945, September
Lapangan Gambir (kini Lapangan Monas) menjadi ajang ribuan rakyat Indonesia mendengarkan pidato Presiden Soekarno menyambut Proklamasi Kemerdekaan RI.

1946, April
Indonesia mengirimkan misi diplomatik pertamanya ke Belanda untuk berunding dengan pihak Sekutu dan Belanda.

1946, Agustus
Diplomasi bantuan beras Indonesia untuk rakyat India yang sedang dilanda bencana kelaparan. Pemerintah India membalas dengan mengirimkan obat-obatan, pakaian, dan mesin yang dibutuhkan Indonesia.

1947
"Indonesia Office" atau Kantor Urusan Indonesia didirikan di Singapura, Bangkok, dan New Delhi untuk menjadi perwakilan resmi Pemerintah RI, sekaligus menembus blokade ekonomi Belanda terhadap Indonesia.

Radio "Voice of Free Indonesia" disiarkan untuk pertama kalinya dari Yogyakarta.

1947, Maret
Indonesia dan Belanda menandatangani Perjanjian Linggarjati, dimana pihak Belanda mengakui kedaulatan RI hanya sebatas Jawa, Sumatra, dan Madura.

Pemerintah Mesir yang diwakili oleh Abdul Mounem menyampaikan pengakuan resminya terhadap kemerdekaan Indonesia.
1948, Desember
Belanda menggelar agresi militer untuk kedua kalinya terhadap Indonesia. Presiden Soekarno, Wapres Moh. Hatta dan Menteri Luar Negeri Agus Salim ditangkap Belanda di ibukota Yogyakarta dan kemudian diasingkan ke Pulau Bangka, Sumatra.

Sidang Kabinet Darurat RI kemudian menunjuk Menteri Kemakmuran Sjafruddin Prawiranegara agar membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). A.A. Maramis yang saat itu sedang berada di New Delhi menjadi Menteri Luar Negeri PDRI.

1949, Januari
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi agar Belanda dan Indonesia segera menghentikan segala aktifitas militer. Belanda diminta DK PBB untuk segera melepaskan semua tahanan politik yang ditahan sejak awal Agresi Militer II.

Untuk membantu Indonesia yang sedang diserang Belanda, India dengan dukungan Birma menyelenggarakan Konferensi Asia mengenai Indonesia di New Delhi. Konferensi dipimpin langsung oleh PM India Jawaharlal Nehru. Semua delegasi yang hadir saat itu, mulai dari negara-negara Asia hingga Australia dan Selandia Baru dari Pasifik, mengutuk Agresi Militer II Belanda.

Pemerintah Birma (kini Myanmar) memberikan dukungan bagi perjuangan Indonesia melawan Belanda dengan mengizinkan pesawat "Indonesian Airways" Dakota RI-001 Seulawah untuk beroperasi di Birma. Pesawat Seulawah adalah hadiah dari rakyat Aceh kepada Presiden Soekarno.

Selain itu, Birma juga memberikan bantuan peralatan radio yang memungkinkan Indonesia membangun jaringan komunikasi radio antara pusat pemerintahan RI di Jawa - PDRI di Sumatera - Perwakilan RI di Rangoon - Perutusan RI untuk PBB di New York.


1947, Oktober
Kedatangan Komisi Tiga Negara (Committee of Good Offices) ke Indonesia, mengemban mandat Dewan Keamanan PBB untuk mengatasi sengketa Indonesia - Belanda. Para anggota Komisi adalah Hakim Richard C. Kirby (Australia), mantan Perdana Menteri Paul van Zeeland (Belgia), dan Rektor University of North Carolina Dr. Frank B. Graham (AS).

1948
Mufti Agung Haji Amin El Husni berkunjung ke Indonesia untuk menyampaikan dukungan dan simpati rakyat Palestina atas perjuangan kemerdekaan Indonesia.

1948, Januari
Perjanjian gencatan senjata Indonesia-Belanda ditandatangani di atas kapal USS Renville. Mewakili pihak Indonesia adalah Perdana Menteri Amir Sjarifuddin. Perjanjian Renville merupakan hasil kerja Komisi Tiga Negara (KTN).

1948, September
Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri RI Mohammad Hatta menyampaikan prinsip-prinsip kebijakan luar negeri RI yang bebas dan aktif di hadapan Sidang Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

1948
Untuk menembus blokade ekonomi Belanda, Menteri Kemakmuran RI Dr. A.K. Gani berangkat dalam sebuah misi diplomatik ke Kuba untuk mengembangkan hubungan perdagangan dengan negara-negara Amerika Latin. Pada tahun yang sama, Indonesia menandatangani kontrak dagang dengan pengusaha AS dan membina hubungan dengan Bank Dunia.

1949, Juli
Konferensi Inter-Indonesia diselenggarakan diantara "negara-negara federal" di Hindia Belanda, seperti: Jawa Tengah, Bangka, Belitung, Riau, Kalimantan Barat, Dayak Besar. Dalam Konferensi tersebut, negara-negara tersebut mendukung penyerahan tanpa syarat kedaulatan mereka kepada Republik Indonesia.

1949, Desember
Persetujuan Meja Bundar ditandatangani di Den Haag, mengakhiri konflik diantara Indonesia dan Belanda.

Pada hari yang sama (27 Desember 1949), Wakil Kerajaan Belanda menyerahkan kekuasaan formal kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) di Jakarta, yang diwakili oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku Penjabat Perdana Menteri RIS.

Presiden RIS Soekarno kemudian membentuk kabinet pertamanya. Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri RIS adalah Mohammad Hatta.

Amerika Serikat (AS) menjadi negara pertama yang membuka perwakilan diplomatik di Jakarta setelah penyerahan kedaulatan Belanda kepada RIS, hanya tiga hari setelah Konperensi Meja Bundar di Den Haag. Merle Cochran menjadi Duta Besar pertama AS untuk Indonesia. Langkah AS itu kemudian segera disusul oleh Inggris, Belanda, dan China.

Masa Awal Kiprah Diplomasi Indonesia
1950
Dalam kunjungan ke Pakistan, Presiden Soekarno bertemu dan menyampaikan penghargaan kepada para prajurit Pakistan yang berjuang di pihak Indonesia di masa revolusi melawan Belanda.

1950, Agustus
Indonesia kembali dipulihkan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1950, September
Indonesia secara resmi diterima menjadi anggota ke-60 Perserikatan Bangsa - Bangsa (PBB).

1950, Desember
Perundingan antara Indonesia dan Belanda mengenai masalah Irian Barat. Delegasi RI dipimpin oleh Mohammad Roem. Dalam perundingan tersebut, Belanda menolak menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia.

1955
PM Republik Rakyat China Chou En-Lai dan Menlu RI Soenario menandatangani Perjanjian Dua Kewarganegaraan di Jakarta. PM Chou En-Lai berada di Indonesia dalam rangka menghadiri Konferensi Asia-Afrika.

1955, April
Konferensi Asia-Afrika (KAA) diselenggarakan di Bandung, tanggal 18 - 24 April. Sebanyak 29 negara dari kedua benua menghadiri Konferensi tersebut, termasuk 5 negara penggagas KAA Burma, India, Indonesia, Pakistan, dan Sri Lanka. KAA merupakan konferensi pertama yang diadakan oleh negara-negara bekas jajahan di Asia dan Afrika setelah Perang Dunia II.

KAA 1955 menandai kebangkitan bangsa-bangsa terjajah, dengan disepakatinya Dasa Sila Bandung yang menegaskan hubungan antarbangsa berdasarkan asas kemerdekaan dan keadilan.
Dalam pidato tersebut, Presiden Soekarno menyerukan "Kekuatan Dunia Baru" (New Emerging Forces, NEFOS) untuk bangkit menuju tatanan dunia yang lebih adil dan seimbang, melampaui dominasi negara-negara besar di dunia yang secara ideologis terbagi ke dalam Blok Barat dan Blok Timur.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Indonesia bertemu dengan para kepala pemerintahan Ghana, India, Mesir, dan Yugoslavia guna mempersiapkan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok I di Beograd, Yugoslavia pada tahun 1961.

1961
KTT Gerakan Non-Blok I diselenggarakan di Beograd, Yugoslavia. Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Nehru dari India diutus oleh forum untuk menyampaikan hasil-hasil KTT GNB I, masing-masing ke Washington dan ke Moskow.

KTT GNB 1961 dan Konferensi Asia-Afrika 1955 mengukuhkan peranan historis RI dalam membangun suatu tatanan dunia baru untuk negara-negara berkembang berdasarkan prinsip kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan.

1961, Desember
Presiden Soekarno mengeluarkan Tri Komando Rakyat (Trikora) yang menyerukan kepada rakyat Indonesia untuk membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda. Komando Mandala dibentuk di Makassar untuk mengatur perjuangan bersenjata membebaskan Irian Barat.

1962, Agustus
Perjanjian New York ditandatangani oleh pihak Indonesia dan Belanda. Menurut isi perjanjian, Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Pemerintahan Sementara PBB (UN Temporary Executive Administration, UNTEA).




1956
Indonesia untuk pertama kalinya mengirimkan pasukan Kontingen Garuda dalam misi penjaga perdamaian PBB di Gurun Sinai, Timur Tengah.

1956, Mei
Presiden Soekarno menandatangani Undang-Undang No. 13 Tahun 1956 mengenai pembatalan sepihak Uni Indonesia - Belanda, karena sikap tidak bersahabat Belanda dan penolakannya untuk menyerahkan kembali Irian Barat kepada Indonesia.

Pada tahun yang sama, Presiden Soekarno berkeliling ke negara-negara AS, China, Uni Soviet, dan Yugoslavia untuk mendapatkan dukungan bagi perjuangan merebut kembali Irian Barat.
1958, Januari
Indonesia dan Jepang menandatangani Perjanjian Perdamaian di Jakarta. Penandatanganan dari pihak Indonesia adalah Dr. Subandrio.

1959
Laili Roesad dilantik menjadi Duta Besar RI untuk Belgia dan Luksemburg. Beliau adalah duta besar perempuan pertama Indonesia.

1960, Agustus
Pada tanggal 17 Agustus, Indonesia menyatakan memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda dan melakukan persiapan militer untuk membebaskan Irian Barat. Untuk menindaklanjuti hal tersebut, berbagai misi untuk mendapatkan bantuan persenjataan dikirimkan antara lain ke China, Uni Soviet, dan Yugoslavia.

1960, September
Presiden Soekarno di hadapan Sidang Majelis Umum PBB ke-15 menyampaikan pidatonya yang berjudul "Membangun Dunia Baru" (To Build the World Anew).



1963, Mei
UNTEA menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia. Untuk memperingati perjuangan pembebasan Irian Barat, sebuah Tugu Peringatan didirikan di Lapangan Banteng pada tanggal 18 Agustus.

1963, September
Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia, menyusul pembentukan Federasi Malaysia yang mencakup daerah-daerah bekas jajahan Inggris di Kalimantan Utara.

Presiden Soekarno menyerukan "konfrontasi fisik" dengan Malaysia, yang menyebabkan banyak terjadinya insiden bersenjata antara tenaga sukarelawan Indonesia dengan tentara Malaysia yang dibantu Inggris, Australia, dan Selandia Baru di sepanjang daerah perbatasan di utara Kalimantan.o.id
HAL-HAL YANG DAPAT DITELADANI DARI IR. SOEKARNO
Selalu mengutamakan musyawarah untuk mufakat.
Pada saat proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, Soekarno dan tokoh kemerdekaan Indonesia lainnya mengadakan musyawarah untuk mencapai mufakat demi keutuhan bangsa dan negara Indonesia yang baru berdiri.
Meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi.
Meskipun masing-masing tokoh memiliki pendapat yang berbeda-beda namun akhirnya Soekarno dan tokoh bangsa lainnya dapat menghasilkan keputusan bersama yang diterima & dilaksanakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.
Memiliki semangat kekeluargaan dan kebersamaan.
Soekarno dan tokoh bangsa lainnya memiliki semangat kekeluargaan dan kebersamaan yang merupakan kekuatan   batin dalam merebut kemerdekaan dan menegakkan kedaulatan rakyat.
   
Berani dan rela berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara.         
Soekarno terkenal sebagai orator yang ulung. Pidato-pidato mampu membangkitkan semangat rakyat untuk berjuang merebut kemerdekaan. Dengan tuduhan menghasut rakyat untuk memberontak, pada akhir Desember 1929 Soekarno ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara.
Pantang mundur dan tidak kenal menyerah
Perumusan dasar negara Indonesia merupakan hasil kerja keras yang melibatkan banyak tokoh diantaranya Soekarno. Beliau berjuang keras tanpa kenal menyerah dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih dan penuh semangat untuk merumuskan dasar Negara.
KESIMPULAN YANG DAPAT KITA JADIKAN PELAJARAN DARI IR. SOEKARNO
·         Tidak melakukan Korupsi atau segala sesuatu yang dapat menghancurkan Kita.
·         Apabila Kita ingin memimpin orang lain, pimpin dahulu diri Kita sehingga orang lain yang Kita pimpin-pun akan segan, terbukti dengan Kepemimpinan Soekarno yang tidak mengambil uang rakyat berakibat pada orang-orang yang dipimpinnya-pun tidak sampai hati untuk melakukan hal itu.
·         Menjadi Pemimpin yang terbuka, tidak hanya untuk golongannya tapi untuk semua kalangan yang dipimpin, terbukti dengan Keinginan Soekarno yang ingin Istana Negara bukan hanya menjadi tempat bagi para mandataris rakyat, tapi juga terbuka untuk setiap orang yang ingin masuk dan belajar di sana, tidak seperti kondisi sekarang yang penjagaan sangat ketat sehingga cenderung orang-orang istana saja yang bisa masuk ke sana.
·         Menjadi pemimpin yang jika berbicara tidak hanya mampu dimengerti oleh orang-orang yang berpendidikan, tapi bisa menyesuaikan dengan siapa yang diajak bicara.
·         Pemimpin harus memerdulikan ‘orang kecil’. Hakikat pemimpin adalah orang yang dipilih rakyat (mandataris rakyat), sehingga harus memerdulikan rakyat yang dipimpinnya.
·         Jangan pernah menyerah dalam memerjuangkan kebenaran dan untuk kepentingan masyarakat banyak.
·         Jangan terlalu menikmati (terlena) dengan jabatan yang Kita pegang sekarang seolah tidak ingin turun, walaupun Kita telah menorehkan prestasi yang membanggakan, Kita harus sadar bahwa jabatan itu harus berganti, jika tidak, maka akan terjadi hal-hal yang negatif.
·         Pemimpin harus gigih dalam memerjuangkan kebenaran walaupun risikonya sangat besar.
·         Pemimpin yang tegas dan berani, adalah pemimpin yang dapat selalu mempertahankan integritasnya, sekalipun ‘penjara’ rintangannya. 
·         Apabila seorang pemimpin ingin dan bermaksud memperjuangkan kepentingan ‘rakyat’ yang dipimpinnya, maka Pemimpin tersebut harus sebisa mungkin berjumpa dengan ‘rakyat’nya, karena dengan itu, maka akan tampak bukan hanya sekadar janji-janji yang terlontar, namun ada usaha untuk menjadikan itu nyata.
KATA-KATA MUTIARA IR. SOEKARNO TERBAIK
1. "Tuhan menciptakan bangsa untuk maju melawan kebohongan elit atas, hanya bangsanya sendiri yang mampu merubah nasib negerinya sendiri."
2. "Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya."
3. "Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam."
4. “Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim. Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya [Bung Karno, Pidato HUT Proklamasi, 1964]
5. "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya." [Ir. Soekarno, Pidato Hari Pahlawan 10 November 1961]
6. "Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup dimasa pancaroba. Jadi tetaplah bersemangat elang rajawali."
7. "Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."
8. "Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali."
9. "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."
10. "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia"
11. "Merdeka hanyalah sebuah jembatan, Walaupun jembatan emas.., di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa.., satu ke dunia sama ratap sama tangis!"
12. "Orang tidak bisa mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia.. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin."
13. "Apakah kelemahan kita adalah kurang percaya diri sebaga bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri dan kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah rakyat gotong royong."
14. "Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa."
15. "Bangunlah suatu dunia dimana semuanya bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan."
16. "Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tapi budak." [Bung Karno, Pidato HUT Proklamasi]
17. "Aku lebih suka lukisan samudra yang gelombangnya menggebu-gebu daripada lukisan sawah yang adem ayem tentram."
18. "Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat." [Ir. Soekarno, Pidato HUT Proklamasi]
19. "Apabila dalam di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun."
20. "Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta. Masa yang lampau sangat berguna sebagai kaca benggala daripada masa yang akan datang."
21. Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya. [Ir. Soekarno, Pidato HUT Proklamasi 1956]
22. "Apakah kita mau Indonesia merdeka, yang kaum Kapitalnya merajalela ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang dan pangan?" [Ir. Soekarno Pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945]
23. "Gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja, para kawula iyeg rumagang ing gawe, tebih saking laku cengengilan adoh saking juti. Wong kang lumaku dagang, rinten dalu tan wonten pedote, labet saking tan wonten sansayangi margi. Subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Bebek ayam raja kaya enjang medal ing panggenan, sore bali ing kandange dewe-dewe. Ucapan-dalang dari bapaknya-embahnya-buyutnya-canggahnya, warengnya-udeg-udegnya gantung siwurnya. Bekerja bersatu padu, jauh daripada hasut, dengki, orang berdagang siang malam tiada hentinya, tidak ada halangan di jalan. Inipun menggambarkan cita-cita sosialisme." [Bung Karno, Pidato Hari Ibu 22 Desember 1960]

24. "Walaupun jembatan emas di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa.. satu ke dunia sama ratap sama tangis.."