Minggu, 17 April 2016

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "suwiryo"

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "suwiryo"



DisusunOleh :
1.    AndikaPutriPamungkas             (02)
2.    AnnisaDewanti                              (03)            XI IIS 1
3.    SilvyanaNur H                               (29)


Suwiryo

Raden Suwiryo (lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, 17 Februari1903 – meninggal di Jakarta, 27 Agustus1967 pada umur 64 tahun) adalah seorang tokoh pergerakan Indonesia. Ia juga pernah menjadi Walikota Jakarta dan Ketua Umum PNI. Ia juga pernah menjadi Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Sukiman-Suwiryo. Pada masa mudanya Suwiryo aktif dalam perhimpunan pemuda Jong Java dan kemudian PNI. Setelah PNI bubar tahun 1931, Suwiryo turut mendirikan Partindo. Pada zaman kependudukan Jepang, Suwiryo aktif di Jawa Hokokai dan Putera.
Proses Suwiryo menjabat sebagai wali kota dimulai pada Juli 1945 pada masa pendudukan Jepang. Kala itu dia menjabat sebagai wakil wali kota pertama Jakarta, sedangkan yang menjadi wali kota seorang pembesar Jepang (Tokubetsyu Sityo) dan wakil wali kota kedua adalah Baginda Dahlan Abdullah. Dengan kapasitasnya sebagai wakil wali kota, secara diam-diam Suwiryo melakukan nasionalisasi pemerintahan dan kekuasaan kota.
Pada 10 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu setelah bom atom dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki. Berita takluknya Jepang ini sengaja ditutup-tutupi. Tapi Suwiryo, dengan berani menanggung segala akibat menyampaikan kekalahan Jepang ini pada masyarakat Jakarta dalam suatu pertemuan. Hingga demam kemerdekaan melanda Ibu Kota, termasuk meminta Bung Karno dan Bung Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Perpindahan kekuasaan dari Jepang dilakukan tanggal 19 September 1945 dan Suwiryo ditunjuk jadi Walikota Jakarta tanggal 23 September 1945.Ketika kedua pemimpin bangsa ini memproklamirkan kemerdekaan, Suwiryo-lah salah seorang yang bertanggungjawab atas terselenggaranya proklamasi di kediaman Bung Karno. Semula akan diselenggarakan di Lapangan Ikada (kini Monas) tapi karena balatentara Jepang masih gentayangan dengan senjata lengkap, dipilih di kediaman Bung Karno.
Suwiryo dari PNI pada 17 September 1945 bersama para pemuda ikut menggerakkan massa rakyat menghadiri rapat raksasa di lapangan Ikada (Monas) untuk mewujudkan tekad bangsa Indonesia siap mati untuk mempertahankan kemerdekaan. Rapat raksasa di Ikada ini dihadiri bukan saja oleh warga Jakarta tapi juga Bogor, Bekasi, dan Karawang.Ketika pasukan Sekutu mendarat yang didomplengi oleh pasukan NICA (Nederlands Indies Civil Administration), pada awal 1946, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden, Hatta hijrah ke Yogyakarta. Suwiryo yang tetap berada di Jakarta menginstruksikan kepada semua pegawai pamongpraja agar tetap tinggal di tempat menyelesaikan tugas seperti biasa. Pada 21 Juli 1947 saat Belanda melancarkan aksi militernya, Suwiryo diculik oleh pasukan NICA di kediamannya di kawasan Menteng pada pukul 24.00 WIB. Selama lima bulan dia disekap di daerah Jl Gajah Mada, dan kemudian (Nopember 1947) diterbangkan ke Semarang untuk kemudian ke Yogyakarta.Di kota perjuangan, wali kota pertama Jakarta ini disambut besar-besaran oleh Panglima Besar Sudirman yang datang ke stasion Tugu. Di sana Suwiryo ditempatkan di Kementrian Dalam Negeri RI sebagai pimpinan Biro Urusan Daerah Pendudukan (1947-1949). Pada September 1949, Suwiryo kembali ke Jakarta sebagai wakil Pemerintah RI pada Republik Indonesia Serikat (RIS).
Pada 17 Februari1950 Presiden RIS, Sukarno mengangkatnya kembali sebagai Walikota Jakarta Raya. Pada 2 Mei1951, Suwiryo diangkat jadi Wakil PM dalam Kabinet Sukiman-Suwirjo (April 1951 - April 1952). Jabatan wali kota diganti oleh Syamsurizal (Masyumi). Setelah berhenti menjadi Wakil PM, kemudian Suwiryo diperbantukan beberapa saat di Kementrian Dalam Negri. Setelah itu Suwiryo menjabat sebagai Presiden Direktur Bank Umum merangkap Presiden Komisaris Bank Industri Negara (BIN) yang kemudian dikenal dengan Bapindo. Suwiryo meninggalkan dunia perbankan setelah terpilih menjadi Ketua Umum PNI. Lepas dari kegiatan partai, Suwiryo menjadi anggota MPRS dan kemudian menjadi anggota DPA.
Enam tahun terakhir masa hayatnya, Suwiryo berjuang melawan penyakit yang tidak dapat dilawannya, akhirnya ia meninggal pada 27 Agustus1967 dan dimakamkan di Taman makam Pahlawan Kalibata.
BerikutiniperandariSuwiryo
·         Walikota yang menyelenggarakanupacaraproklamasi
·         Aktif dalam perhimpunan pemuda Jong JavadanPNI.
·         Turut mendirikan Partindo.
·         Pada zaman kependudukan Jepang, Suwiryo aktif di Jawa Hokokai dan Putera.
·         Turutnasionalisasi pemerintahan dan kekuasaan kotapadasaatmenjadiwalikota
·         BertindakberanidenganmengumumkankekalahanJepang
·         Meminta Bung Karno dan Bung Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan
·         Salah seorang yang bertanggungjawab atas terselenggaranya proklamasi di kediaman Bung Karno.
·         Ikut menggerakkan  rakyat menghadiri rapat raksasa di lapangan Ikadauntuk mewujudkan tekad bangsa Indonesia siap mati untuk mempertahankan kemerdekaan.
BerikutiniketeladanandariSuwiryo yang dapatditiru
·         Jiwadansemangatmerdeka
·         Beranimengambilresiko
·         Nasionalisme



Sumber https://id.wikipedia.org/wiki/Suwiryo

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "S.Suhud"

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "S.Suhud"

 1.    Sarah Whiena K               (25)
 2.    Siska Nur aini Dewi          (31)
 3.    Nurani Iswidaisih               (21)

S. SUHUD
S. Suhud atau lengkapnya Suhud Sastro Kusumo, sebagai anggota Barisan pelopor. Beliau adalah salah seorang pengibar bendera pusaka saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jl. Pegangsaan nomor 56 pada tanggal 17 Agustus 1945. Tepatnya sebagai pendamping Latif Hendraningrat.
Pada acara proklamasi kemerdekaan, pertama, Soekarno membaca Proklamasi yang sudah diketik Sajuti Melik dan telah ditandatangani Soekarno-Hatta. Kemudian Soekarno berpidato singkat tanpa teks . Setelah itu beliau berdoa seraya mengangkat kedua telapak tangannya. Untuk pengerekan bendera awalnya diminta kesediaan Trimurti, tapi dia menolak lalu mengusulkan sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Maka Latif Hendraningrat, yang masih memakai seragam lengkap PETA, maju kedepan sampai dekat tiang bendera. Soehoed didampingi S.K Trimurti muncul dari belakang membawa sebuah baki nampan berisi bendera Merah Putih (bendera pusaka yang dijahit Fatmawati beberapa waktu sebelumnya). Maka dikereklah bendera tersebut oleh Latif dibantu Soehoed, yang dikereknya pada tiang bambu.(Latief Hendradiningrat sebagai pengerek bendera, S Suhud sebagai pembentang bendera, dan S.K Trimurti sebagai pembawa bendera yang kini kita kenal sebagai baki). Setelah berkibar, spontan hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Dalam foto karya Frans Mendur, belaiu berdiri dibelakang kamera dan mengenakan celana pendek.




Beliau merupakan sosok yang patut untuk diteladani.Ide-ide dan gagasan-gagasannya sangat baik.Contohnya, beliau sangat taat pada pemimpin.Apa yang telah diamanatkan kepadanya dapat beliau laksanakan dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab.Seperti saat beliau diberi tugas untuk mencari tiang bendera, karena beliau gugup akhirnya beliau membuat tiang bendera sendiri dari bambu.Walaupun begitu, usaha dan kerja kerasnya dapat menghasilkan kepuasan.Pelaksanaan upacara bendera dapat tetap dilaksanakan dengan baik.Selain itu, keberaniannya dalam mengibarkan bendera merah putih untuk pertama kalinya, beliau mampu menjalankannya dengan benar dan penuh rasa khidmat.

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "burhanuddin mohammad diah"

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "burhanuddin mohammad diah"


ATRI CAHYANINGTYAS                  (04)
SINDI NUGRAHENI                            (30)


Burhanuddin Mohammad Diah

        I.            PROFIL SINGKAT
Nama               : Burhanuddin Mohammad Diah
Lahir                : Kutaraja  (sekarang Banda Aceh), 7 April 1917
Meninggal        : Jakarta, 10 Juni 1996
Profesi             : Tokoh pers, pejuang kemerdekaan, diplomat, dan pengusaha Indonesia.

     II.            PERAN

1.       Direktur Utama Sinar Deli Medan
2.       Anggota redaksi surat kabar Warta Harian yang terbit di Jakarta (1938-1939)
3.       Penerbit majalah Peraturan Dunia dalam Film (1938)
4.       Penerjemah dan Kepala Pers Indonesia di Konsulat Jenderal Inggris di Jakarta (1939-1942)
5.       Pemimpin surat kabar Asia Raja di Jakarta (1942-1948)
Beliau meliput keadaan Jerman Barat dan Berlin yang baru kalah perang.

6.       Golongan pemuda yang hadir dalam perumusan Teks Proklamasi di Kediaman Maeda
Setelah perumusan teks proklamasi disetujui hadirin kemudian diketik oleh Sayuti Melik akan tetapi konsep teks proklamasi itu dibiarkan begitu saja, oleh karena itu segera diambil dan dicetak oleh BM. Diah untuk disebarkan ke seluruh Indonesia. Pekerjaan tersebut dilakukan para pemuda yang bekerja di kalangan pers di bawah pimpinannya.




7.       Ketua Gerakan Angatan Baru  45’
Bersama dengan Chairul Saleh, Sukarni, Wikana dan lain-lain sering mengadakan pertemuan dan akhirnya 3 Juni 1945 dibentuklah gerakan Angkatan Baru yang bertujuan "Memperjuangkan Indonesia Merdeka sekarang juga! " dan ia diangkat sebagai ketuanya. Akibat gerakannya ini,  beliau dipenjarakan dengan tuduhan melakukan tindakan melawan pemerintah militer Jepang.

8.       Anggota KNIP Malang (1945-1952)
9.       Penerbit surat kabar Merdeka (1945)
10.   Ketua surat Kabar Indonesia Observer (1945)
Tahun 1949 (Juli-November) beliau sering mengadakan wawancara dengan pemimpin-pemimpin dunia mengenai politik diantaranya; Presiden Najib dari Mesir, Perdana Menteri dari Nehru dari India, Perdana Menteri Chou En Lai dari Cina, Perdana Menteri Margereth Thacher dari Inggris dan lain-lain.

11.   Penyiar siaran bahasa Inggris di Radio Hosokyoku
Di saat yang bersamaan, ia juga bekerja di Asia Raja. Namun karena hal itu ketahuan Jepang, ia pun dijebloskan ke dalam penjara selama empat hari. Saat bekerja di Radio Hosokyoku, BM Diah bertemu dengan Herawati, seorang penyiar lulusan jurnalistik dan sosiologi di Amerika Serikat yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Pasangan itu menikah pada 18 Agustus 1942 dan memberikan mereka dua anak perempuan dan satu laki-laki. Pada April 1945, Diah bersama istrinya mendirikan koran berbahasa Inggris Indonesian Observer.

12.   Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, Diah bersama sejumlah rekannya, seperti Joesoef Isak dan Rosihan Anwar juga turut memanggul senjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Percetakan Jepang "Djawa Shimbun" yang menerbitkan Harian Asia Raja berhasil mereka kuasai tanpa perlawanan dari tentara Jepang.
Setelah berhasil menguasai percetakan Jepang, pada 1 Oktober 1945, Diah mendirikan Harian Merdeka sekaligus memimpinnya hingga akhir hayatnya. Dalam kepemimpinannya, ia tetap konsisten menjadikan Harian Merdeka sebagai salah satu surat kabar perjuangan yang khusus berbicara mengenai politik. Sehingga pada awal tahun 1950-an, muncul istilah Personal Journalism, sebuah corak jurnalistik yang berkembang setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda.

13.   Anggota DPRS (1952-1955)
14.   Anggota Dewan Nasional, Dewan Penasehat Presiden Soekarno (1957-1959)
15.   Komisi pemerintahan untuk menyusun Undang-Undang Pers Indonesia (1957)
16.   Duta Besar RI di Chekoslovakia dan Hongaria (1959-1962)
17.   Gubernur Atomic Energy Agency (IAEA) (1960-1962)
mewakili Indonesia di Wina
18.   Duta Besar RI di Kerajaan Muangthai, Bangkok (1962-1964)
19.   Menteri Penerangan pada Kabinet Ampera (1966- 1968)
Era Orde Baru, BM Diah diangkat oleh Presiden Soeharto Menteri Penerangan pada Kabinet Ampera ke 18. Dalam perjalanan berikutnya, ia juga pernah menjadi anggota DPR dan DPA.

20.   Ketua PWI Pusat (1971-1973)
21.   Anggota ketua dewan pembina PWI-Pusat (1974)
22.   Ketua Komisariat Daerah Persatuan Perhotelan dan Restoran Republik Indonesia (PHRI) (1975-1979)
23.   Salah satu pendiri Yayasan 17 Agustus 45 (1975)
Yaitu lembaga yang mempelajari ilmu politik, sosial, kemanusiaan, dan ekonomi.

24.   Ketua Harian Dewan Pers Indonesia (1978-1987)
25.   Anggota panitia penasehat untuk ketua Konferensi Menteri-Menteri Penerangan dari negara-negara Non Blok (1987)
Selain itu, ia juga mengadakan wawancara khusus dengan Presiden Michael Garbachev dari USRR mengenai Glasnots dan Perestroika.

26.   Penulis buku
Karya tulisnya yang sudah dibukukan, yaitu Angkatan Baru 1945 terbitan tahun 1983, Meluruskan Sejarah terbitan 1984, dan Mahkota Bagi Seorang Wartawan terbitan 1988.

27.   Presiden Direktur PT Masa Merdeka
28.   Wakil Pemimpin PT Hotel Prapatan-Jakarta.
29.   Pendirikan Hottel Hyatt Aryaduta.


  III.            KETELADANAN
1.       Tegas dan bertanggung jawab
Terbukti beliau dipercaya untuk menjadi ketua maupun wakil ketua diberbagai organisasi- organisasi pada masa kemerdekaan.

2.       Aktif
Dari muda sampai akhir hayat, beliau selalu mengikuti berbagai pergerakan kemerdekaan, organisasi- organisasi, dan kegiatan lain yang sangat berperan dalam kemerdekaan dan kemajuan Indonesia.

3.       Tekad yang kuat dan kerja keras
Sewaktu BM Diah di sekolah, beliau tidak mampu untuk membayar biaya sekolah. Namun, karena tekad yang kuat dan kerja keras beliau untuk tetap sekolah akhirnya guru beliau membantu agar beliau tetap bias bersekolah.


Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "sayuti melik"

Tugas Sejarah
Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi
Sayuti Melik


Lutfi Raka Satria                     (XI.S.1/18)

Risa Yauma Nur J       (XI.S.1/23)








Profil Sayuti Melik
Nama                                        : Mohammad Ibnu Sayuti
Tempat tanggal lahir       : Sleman, 22 November 1908
Wafat                                        :Jakarta, 27 November 1989(80 tahun)
Agama                                      : Islam
Makam                                      : TMP Kalibata
Pekerjaan                                  : Wartawan Politisi
Orang Tua                                 : Abdul Mu’in dan Sumilah
Pasangan                                   : S.K. Trimurti
Anak                                         : Moesafir Karma Boediman dan Heru Baskoro





Peran Sayuti Melik dalam Kemerdekaan.
Sayuti Melik adalah seorang wartawan dan pejuang nasional. Sebagai pejuang dan sekaligus wartawan, Sayuti Melik terlibat langsung dalam persiapan proklamasi tersebut. Dia termasuk salah satu dari kelompok lima yakni Soekarno, Mohammad Hatta, Sukarni dan Achmad Subarjo. Keterlibatan Sayuti Melik terutama dalam merumuskan point - point penting yang kelak akan menjadi teks proklamasi. Kejadian itu berlangsung dini hari di rumah Laksamana Tadashi Maeda di jalan Imam Bonjol, No. 1, Jakarta Pusat, seorang perwira tinggi jepang berpangkat laksamana madya. Sayuti Melik lahir di Dusun Kalidogo, Kelurahan Purwobinangun, Paken, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ayahnya bernama Dul Maini, seorang kepala kerohanian di sembung kala itu. Dalam perumusan naskah teks proklamasi tersebut menurut beberapa rujukan terjadi perbincangan sengit tentang siapa yang menandatangani naskah proklamasi tersebut. Saat itu redaksi naskahnya sendiri telah mendapat persetujuan bulat, terutama pada langkah penentuan nasib bangsa Indonesia selanjutnya itu. Lalu setelah jeda, Sukarni maju ke depan dan menyatakan bahwa yang mentanda tangani naskah proklamasi tersebut tidak perlu semua anggota, melainkan Soekarno dan Mohammad Hatta saja atas nama bangsa Indonesia. Hadirin menyambut usulan itu dengan tepuk tangan. Tapi sesungguhnya yang mempunyai gagasan untuk mengusulkan hal tersebut tidak lain adalah Sayuti Melik dan diucapkan Sukarni di podium. Kedati Mohammad Hatta yang awalnya mengusulkan agar naskah tersebut ditanda tangani oleh kelompok lima kecewa dengan diterimanya usul dari Sukarni tersebut. Tapi sejarah kemudian mencatat bahwa yang menandatangani naskah teks proklamasi pada akhirnya adalah Soekarno dan Beliau sendiri. Usulnya diterima dan Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti untuk mengetiknya. Ia mengubah kalimat “Wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”.

Hal-Hal yang Dapat Diteladani
  1. Beliau memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, dengan ikut serta dalam perumusan teks proklamasi.
  2. Berpendirian teguh dan bertanggung jawab, dapat diketahui dari sosok belau yang rela tidak tidur demi menyelesaikan ketikan teks proklamasi.
  3. Berani mempertaruhkan nyawanya untuk mewujudkan kemerdekaan.
  4. Sosok yang berani dan pantang menyerah. 

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi “SUKARNI KARTODIWIRYO”

Nama Anggota:
Q Alma Puspita Kencana       (01)
Q Valentino Dandi S               (32)
kelompok 4

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi

“SUKARNI KARTODIWIRYO”

Sukarni memiliki nama lengkap yaitu Soekarni Kartodiwiryo. Beliau lahir di Blitar, Jawa Timur pada tanggal 14 Juli 1916. Soekarni Kartodiwiryo adalah tokoh pejuang kemerdekaan dan Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau wafat pada tanggal 7 Mei 1971 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Sukarni sangat aktif dalam pergerakan politik sejak masih muda. Selain itu, beliau juga berperan dalam perjuangan proklamasi kemerdekaan Indonesia, berikut beberapa perannya dalam memperjuangkan kemerdekaan  :
a)      Sukarni bekerja dalam kantor berita DOMEI
b)      Pemimpin gerakan pemuda di Asrama Pemuda Angkatan Baru, Menteng Raya 31 Jakarta.
c)      Pelopor penculikan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok.
d)     Tokoh yang mengusulkan agar teks proklamasi ditanda tangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.
e)      Pemimpin pertemuan strategi penyebarluasan teks proklamasi.
Ada beberapa keteladanan yang dapat diambil dari tokoh Sukarni Kartodiwiryo, seperti :
©  Berjiwa nasionalis yang tinggi. Hal itu ditunjukkan dengan bergabung dalam organisasi Indonesia Muda dan pelopor pengusulan ditanda tanganinya naskah proklamsi oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.
©  Memiliki sifat pemberani. Keberaniannya ini ditunjukkan dalam keikutsertaannya menjadi ketua umum pengurus besar orgnisasi Indonesia Muda serta menjadi pelopor penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok.

©  Bertanggung jawab dalam kepemimpinannya di organisasi Indonesia Muda. 

Meneladani Perjuangan Tokoh Proklamasi "Mohammad Hatta"

Anggota Kelompok :
1.     Aziz Satria Wicaksono                 (05)              XI IPS 1
2.    Devi Amalia Nurkhasanah              (10)


Peran Mohammad Hatta






Anggota Kelompok :
1.     Aziz Satria Wicaksono                 (05)              XI IPS 1
2.    Devi Amalia Nurkhasanah              (10)

Peran Mohammad Hatta



Siapa yang tak kenal dengan wakil presiden Negara kita ini? Mohamad Hatta atau akrab dipanggil Moh.Hatta merupakan tokoh proklamator yang sangat berperan penting terhadap Negara tercinta kita ini. Bung Hatta adalah nama salah seorang dari beribu pahlawan yang pernah memperjuangkan kemerdekaan dan kemajuan Indonesia. Sosok Bung Hatta telah menjadi begitu dekat dengan hati rakyat Indonesia karena perjuangan dan sifatnya yang begitu merakyat. Besarnya peran beliau dalam perjuangan negeri ini sehingga ia disebut sebagai salah seorang “The Founding Father’s of Indonesia”.Berbagai tulisan dan kisah perjuangan Muhammad Hatta telah ditulis dan dibukukan, mulai dari masa kecil, remaja, dewasa dan perjuangan beliau untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.  Sangat besar jasa beliau yang telah diperjuangkan demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Ide-ide dan pemikirannya yang gemilang banyak berkontribusi pada NKRI,sehingga kita dapat menjadi bangsa yang besar seperti saat ini. Terbukti saat proklamasi kemerdekaan,Drs.Moh Hatta dianggap sebagai pemimpin utama bangsa selain Bung Karno. Berkat beliau,perselisihan pendapat antara golongan tua dan golongan muda dapat tercapai kesepakatan. Beliau berdialog dengan golongan muda tentang bagaimana tentang cara memproklamasikan kemerdekaan Indonesia  Selain itu, Bung Hatta adalah salah seorang perumus naskah Proklamasi. Bersama Bung Karno, Bung Hatta bertindak sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia. Selain menandatangani naskah Proklamasi, beliau mendampingi Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.Bung Hatta juga sangat berjasa atas perubahan beberapa kata dalam Piagam Jakarta. Sebagai pemimpin bangsa beliau menerima aspirasi seluruh rakyat Indonesia. Beliau memikirkan keutuhan seluruh bangsa Indonesia.
Dr. H. Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Pria yang akrab disapa dengan sebutan Bung Hatta ini merupakan pejuang kemerdekaan RI yang kerap disandingkan dengan Soekarno. Tak hanya sebagai pejuang kemerdekaan, Bung Hatta juga dikenal sebagai seorang organisatoris, aktivis partai politik, negarawan, proklamator, pelopor koperasi, dan seorang wakil presiden pertama di Indonesia.Kiprahnya di bidang politik dimulai saat ia terpilih menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond wilayah Padang pada tahun 1916. Pengetahuan politiknya berkembang dengan cepat saat Hatta sering menghadiri berbagai ceramah dan pertemuan-pertemuan politik. Secara berkelanjutan, Hatta melanjutkan kiprahnya terjun di dunia politik. Sampai pada tahun 1921 Hatta menetap di Rotterdam, Belanda dan bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda, Indische Vereeniging. Mulanya, organisasi tersebut hanyalah merupakan organisasi perkumpulan bagi pelajar, namun segera berubah menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan saat tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumu) bergabung dengan Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).Di Perhimpunan Indonesia, Hatta mulai meniti karir di jenjang politiknya sebagai bendahara pada tahun 1922 dan menjadi ketua pada tahun 1925. Saat terpilih menjadi ketua PI, Hatta mengumandangkan pidato inagurasi yang berjudul "Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan".Dalam pidatonya, ia mencoba menganalisa struktur ekonomi dunia yang ada pada saat itu berdasarkan landasan kebijakan non-kooperatif. Hatta berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik rakyat Indonesia.Sebagai ketua PI saat itu, Hatta memimpin delegasi Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Berville, Perancis, pada tahun 1926. Ia mulai memperkenalkan nama Indonesia dan sejak saat itu nama Indonesia dikenal di kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda dan berkenalan dengan aktivis nasionalis India, Jawaharhal Nehru.Aktivitas politik Hatta pada organisasi ini menyebabkan dirinya ditangkap tentara Belanda bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul madjid Djojodiningrat sebelum akhirnya dibebaskan setelah ia berpidato dengan pidato pembelaan berjudul: Indonesia Free. Selanjutnya pada tahun 1932, Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia dengan adanya pelatihan-pelatihan.Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Aksi ini menuai reaksi keras oleh Hatta. Ia mulai menulis mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi Hatta inilah pemerintah kolonial Belanda mulai memusatkan perhatian pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia dan menangkap pimpinan para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua. Pada masa pengasingan di Digul, Hatta aktif menulis di berbagai ssurat kabar. Ia juga rajin membaca buku yang ia bawa dari Jakarta untuk kemudian diajarkan kepada teman-temannya. Selanjutnya, pada tahun 1935 saat pemerintahan kolonial Belanda berganti, Hatta dan Sjahrir dipindahlokasikan ke Bandaneira. Di sanalah, Hatta dan Sjahrir mulai memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, politik, dan lainnya.Setelah delapan tahun diasingkan, Hatta dan Sjahrir dibawa kembali ke Sukabumi pada tahun 1942. Selang satu bulan, pemerintah kolonial Belanda menyerah pada Jepang. Pada saat itulah Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.Pada awal Agustus 1945, nama Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dengan Soekarno sebagai Ketua dan Hatta sebagai Wakil Ketua.Pada tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pagesangan Timur 56 tepatnya pukul 10.00 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keesokan harinya, pada tanggal 18 Agustus 1945 Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Hatta sebagai Wakil Presiden.Setelah kemerdekaan mutlak Republik Indonesia, Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan. Dia juga masih aktif menulis berbagai macam karangan dan membimbing gerakan koperasi sesuai apa yang dicita-citakannya. Tanggal 12 Juli 1951, Hatta mengucapkan pidato di radio mengenai hari jadi Koperasi dan selang hari lima hari kemudian dia diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia.Dengan Latar belakang pendidikan ekonomi, disertai tekad untuk menolong rakyat yang menderita, beliau selalu menganjurkan agar masyarakat menjadi anggota koperasi.Bung Hatta menginginkan agar koperasi menjadi wadah ekonomi yang dapat menolong masyarakat dari kemelaratan dan keterbelakangan. Banyak jasa bung hatta dalam perkembangan koperasi di Indonesia. Hal ini jelas dari gagasan Bung Hatta agar kekuatan-kekuatan ekonomi ada ditangan rakyat. Agar kekuatan ekonomi dikuasai oleh rakyat banyak dan bukan dikuasai oleh perusahaan, koperasi adalah satu-satunya wadah. Untuk tujuan itu, Bung Hatta bersama dengan tokoh lainnya ikut aktif merintis Dewan Koperasi Indonesia (DKI), Gerakan Koperasi Indonesia (GKI), dan Kesatuan Koperasi Seluruh Indonesia (KOKSI).Konsep pemikiran Bung Hatta banyak diterima pada kongres koperasi I di Tasikmalaya dan Kongres Koperasi II. Beliau juga member gagasan pendirian Sekolah Menengah Ekonomi Jurusan Koperasi dan bahkan pendidikan tinggi koperasi. Walaupun Bung Hatta telah meninggalkan kita pada tanggal 14 maret 1980, namun beliau tidak pernah dapat dilupakan sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Peran Moh. Hatta
1.     Mendirikan perhimpunan Indonesia (IP)
2.    Menjadi pemimpin Putera (Pusat Tenaga Rakyat)
3.    Menjadi anggota Panitia Sembilan dalam merumuskan Piagam Jakarta
4.    Bersama Ir. Soekarno menandatangani naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
5.    Menjadi pemimpin delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda tanggal 23 Agustus–2 November 1949
6.    Pada tanggal 27 Desember 1945, menandatangani naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia
7.    Drs. Mohammad Hatta dipercaya mendampingi Ir. Soekarno menjadi wakil presiden pertama Republik Indonesia.






Keteladanan Sosok Moh.Hatta
Setelah mengerti dan memahami jasa-jasa yang telah dilakukan oleh Bung Hatta terhadap Indonesia,kita juga harus dapat memetik dan mencontoh pribadi baiknya. Berikut sedikit kisah hidup yang sedikit banyak dapat kita jadikan inspirasi dan motivasi dalam kehidupan :

1.   Sederhana dan baik hati
“Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu itu. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang untuk meminta pertolongan.Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi. Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Padahal, jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sangatlah mudah bagi beliau untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta. Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain.Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri.”
2.      Jujur dan Rendah hati
Ketika Bung Hatta ingin menunaikan ibadah haji di tanah suci, beliau berangkat dengan menggunakan biaya sendiri. Padahal waktu itu Bung Karno telah menawari untuk berangkat menggunakan pesawat terbang yang biayanya ditanggung negara. Tapi, Bung Hatta menolaknya dan lebih memilih untuk naik haji menggunakana biaya sendiri sebagai rakyat biasa. Hebat bukan?
3.    Mendahulukan kepentingan Negara
Ibu Rahmi, istri Bung Hatta menabung sedikit demi sedikit untuk membeli mesin jahit. Ketika tabungannya sudah cukup, Ibu Rahmi pun berencana untuk membeli mesin jahit impiannya. Tapi, kemudian Ibu Rahmi sedih karena tidak jadi membeli mesin jahit tersebut. Kenapa? Sewaktu Ibu Rahmi akan membeli mesin jahit ternyata ada berita bahwa ada penurunan nilai mata uang dari 100 rupiah menjadi 1 rupiah. Meskipun Bung Hatta tahu hal itu, beliau tidak mau menceritakan kepada Ibu Rahmi karena hal tersebut merupakan suatu rahasia negara.

itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini. Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain.Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.